Menatap bayangan masa kecil,menangis

menatap bayangan masa kecil Dhirgha Wardana,menangis

Assalamu'allaikum Wr Wb

Aku akan bercerita sedikit tentang hal yang mengingatkan aku dengan masa kecilku.

Libur 26/08/2018 .. hari minggu.

Minggu-pun tiba,sabtu malam aku sudah bergegas pulang dari purwokerto ke purbalingga.
Namun tak seperti biasanya,aku menghabiskan waktu libur kerjaku untuk tiduran.

Kali ini pukul 09 pagi aku sudah harus ke purwokerto lagi.
Singkat cerita aku sudah harus cepat-cepat ke purwokerto.
Maaf saja , mungkin aku tak bisa menceritakan secara rinci.

Andang Pangrenan

Singkat cerita ( lagi ),aku sampai di purwokerto,sudah di depan kost-ku atau bisa disebut Mess .
Namun semua tidak sesuai rencana,aku harus ke depan Rocket Chicken terlebih dahulu.
Dan sialnya,sedang ada karnaval di sekitar unsoed,akhirnya aku harus mengambil jalan memutar agar tidak terjebak oleh kemacetan.

Namun karna aku tak ingin memutar terlalu jauh,aku-pun mencoba memotong jalan dengan melewati jalan pintas,namun malang tak bisa ditolak.
Rencana melewati jalan pintas untuk memotong waktu perjalanan, justru aku semakin terjebak macet, karna beberapa rombongan karnaval ada yang lewat jalan pintas dan ada yang lewat jalan utama. 

Aku-pun terpaksa lewat jalan memutar,ya aku akhirnya memutar melewati jalan yang lebih jauh hingga akhirnya sampai di Rocket chicken arcawinangun .
Lalu setelah semua itu,aku bergegas pergi ke Rita Super Mall. Hanya iseng,sekedar jalan-jalan.

Sampai akhirnya memutuskan pergi ke taman Andang Pangrenan.
Bermain,bercanda.. lalu duduk di bangku tepat bawah pohon.
Memandang sekitar.

Ada muda-mudi yang sedang bersama kekasihnya.
Ada sepasang suami istri yang bermain bersama anaknya.
Ada anak muda putra-putri yang sedang berkumpul membahas ultah sahabatnya.
Dan ada juga seorang nenek dan cucu perempuannya yang masih kecil dan lucu.

Terbayang

Nenek itu terlihat santai,duduk di bangku di bawah pohon.
Sesekali tersenyum,melihat tingkah cucunya yang sangat bahagia.
Sambil bermain,dan sambil memakan jajanan yang "mungkin" mereka bawa dari rumah.

Mereka terlihat bahagia,sang nenek bahagia karna melihat cucunya yang bahagia.
Sedangkan cucunya bahagia karna dapat bermain di taman itu.

Aku-pun tersenyum,menyadari bahwa sebenarnya bahagia itu sederhana.
Namun.. saat itu juga.
Hatiku bergetar,aku terdiam,pikiranku melayang dan seketika air mata seperti meronta ingin keluar dari tempat tidurnya.
Aku terbayang masa kecilku.
Hal yang sama seperti yang sedang aku lihat.

Masa Kecilku Sederhana Namun Bahagia.

Aku pernah terjatuh dalam kesedihan,aku menganggap hidupku adalah yang paling hancur dan paling tidak berguna.
Namun ternyata salah,hidupku sangatlah bahagia walau hanya dengan hal sederhana.
Melihat nenek dan cucu tadi,seketika aku teringat.
Dulu aku-pun seperti itu.
Ketika hari libur tiba,dan nenekku sedang ada uang lebih.
Aku dan nenekku pergi ke purbalingga kota.
Naik angkot,turun di sembarang tempat.
Atau di alun-alun purbalingga.
Atau di BTPN.

Lalu berjalan kemana saja kaki ini melangkah, tidak ada rasa cape .
Yang kurasa hanyalah senang,bahagia..
Kadang kami keluar masuk di pasar lama yang sekarang sudah menjadi Tamkot Usman Janatin.
Lalu makan soto di sudut selatan agak ke barat pasar.

Soto dimana ada satu buah telur rebus sebagai ciri khasnya,saking seringnya sampai sang ibu penjual sudah hafal dengan kami.
Bahkan sang ibu penjual soto pernah berkata bahwa dia akan datang bila aku sunat.
Kalau tidak salah..
Mungkin hanya gurauan,namun entah kenapa beberapa tahun ini aku teringat dengan semua itu.

Satu Mangkok 

Kami selalu memesan 1 mangkok,ya benar satu mangkok soto atau satu porsi.
Biasanya nenekku menambahkan 2 ketupat.
Dan tugasku untuk menghabiskan ketupat itu.
Kalau tidak salah,soto itu berisi mie putih,ayam, kecambah/toge,daun bawang,dan 1 telur rebus.
Aku selalu memakan ayamnya, ketupatnya dan kuning telurnya.
Lalu nenekku menghabiskan sisanya.
Bukan karna apa,mungkin nenekku juga ingin makan soto namun bukan itu alasan nenekku memakan sisanya.
Melainkan,saat itu ekonomi kami sungguh sangat sulit, untuk bisa makan sehari-hari saja sudah alhamdulillah.

Itulah sebabnya,bagi kami pantang mubazir atau membuang uang secara percuma.
Lagi pula porsi soto tersebut cukup banyak, aku tak ingat berapa harganya, kita anggap saja bila sesuai harga sekarang.. dengan uang 10 ribu kamu bisa mendapat soto porsi 1orang dewasa + 1 anak-anak

Dengan isian 1 butir telur ayam rebus ( dulu ukuran telur ayam cukup besar, tidak kecil seperti telur jaman sekarang ),Potongan ayam yang cukup banyak, 2 Ketupat, Mie bihun/Mie putih porsi standar, dan bahan juga bumbu soto lainnya.

Bakso kecil masa kecil

Jangankan pergi ke kota,ketika nenekku mengajakku pergi ke pasar pun aku senang.
Karna pasti saat nenekku sedang berbelanja aku akan di tinggal di sebuah warung bakso.
Warung bakso yang murah dan selalu ramai walau tempatnya kecil,namun enak.. apalagi ada TV kecil di sudut ruangannya.

Nenekku Egois

Nenekku adalah orang yang egois, dia selalu mementingkan bahagiaku daripada susah yang dia rasakan.
Dia selalu egois, membiarkan dirinya kelaparan sedangkan aku dipaksanya untuk kenyang tak boleh merasa lapar.
Nenekku egois, merawatku saat sakit siang malam tak tidur, padahal dia sendiri sedang tak enak badan dan butuh istirahat.
Sesal Ketika teringat semua itu, seketika air mataku ingin runtuh.
Aku ingin menangis teringat semua hal itu.
Dan aku menyesal,karna tadi sebelum aku berangkat ke purwokerto lagi ,aku berbohong.
Aku berkata bahwa aku akan ke tempat lain.

Maafkan aku nek. Aku menyesal,bahkan aku tak berani meminta maaf secara langsung.
Aku masih sama nek,cucu kecilmu yang nakal,pemalu,dan penakut.

Harapku

Aku berharap Allah SWT memberimu kesehatan dan umur panjang.
Aku ingin membuatmu bahagia.
Aku ingin buktikan bahwa aku cucumu bisa sukses.
Aku ingin membalas kasih sayangmu,walau mungkin tak seberapa dibandingkan kasih sayangmu untukku nek.

Wa'allaikumsalam Wr Wb

0 Response to "Menatap bayangan masa kecil,menangis"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel