ZMedia Purwodadi

Saya dan Mac

Table of Contents

Saya lupa sejak kapan mulai tertarik dengan MacBook, namun jika ditarik ke ingatan yang paling jelas, kemungkinan sekitar 2016-2017-an.

Saat itu saya ingin sekali belajar editing video dll karena sering menonton channel Chandra Liow, Agung Hapah, Skinny24 dll. Ditambah pekerjaan sebagai content creator mulai terlihat menjanjikan.

Dari situ saya sering menemukan bahwa, kebanyakan editor video selalu menggunakan MacBook ataupun iMac. Padahal mereka sendiri mungkin juga memiliki Laptop dan PC High End. Yang setelah beberapa waktu saya cari tahu, ternyata kebanyakan dari mereka memiliki alasan yang sama yaitu layarnya memiliki warna yang cukup akurat dan cocok untuk color grading.

Saya kurang paham apakah itu benar atau tidak (saat itu), kalau jaman sekarang mungkin sudah banyak pilihan yang lebih hemat budget, karena saat ini banyak brand yang sudah membuat monitor yang cocok untuk kebutuhan grafis. Namun tetap saja saat itu saya menjadi tertarik dengan MacBook. Terlebih lagi, beberapa musisi favorit saya juga menggunakan MacBook untuk kebutuhan manggung mereka, yang mungkin mereka di rumah juga sudah punya laptop atau PC High End lainnya.

Mulai dari situ saya sering mencari tahu harga MacBook, kekurangan dan kelebihannya, mengingat saya bukan dari keluarga yang berkecukupan, saya terbiasa membeli barang sesuai kebutuhan saja, tidak selalu memaksa harus mendapatkan spek terbaik dari barang yang saya inginkan.

Setidaknya kebutuhan yang saya perlukan dapat terpenuhi dengan baik, anggaplah saya butuh smartphone, saya tidak memaksa harus membeli versi flagshipnya, mid-range atau bahkan entry level pun akan saya pilih, dengan catatan harganya sesuai budget maksimal yang saya miliki, dan dengan smartphone tersebut kebutuhan saya sudah tercukupi "sebaik mungkin".

Contoh aplikasi WhatApp katakanlah "bisa berjalan" di smartphone dengan RAM 2GB, tapi itu kan hanya sekedar "bisa", yang berarti untuk berjalan dengan sebaik mungkin harus memiliki RAM yang lebih tinggi dari itu.

Maka, jika Minimum Requirement-nya RAM 2GB dan Maximumnya 8GB, maka saya sudah merasa cukup dengan membeli varian smartphone RAM 4 atau 6GB, yang penting fungsi utamanya sudah dapat saya mencukup kebutuhan saya "sebaik mungkin".

Kecuali untuk barang-barang yang memang harus saya gunakan dengan performa terbaiknya, maka saya usahakan untuk membeli spesifikasi terbaiknya.

Begitu juga dengan kebutuhan Laptop dan Komputer, saat pertama kali menginginkan MacBook saya masih bersekolah, dengan uang saku yang sekedar cukup untuk kebutuhan harian anak sekolah (uang transport, kas kelas, kebutuhan print/fotocopy, bayar iuran ini itu, kuota  dll), untuk uang bayaran sekolah saja sering telat, tentu tidak mungkin jika saya tiba-tiba minta beli MacBook.

Karena alasa itu, saya berpikir untuk menabung agar bisa membeli MacBook, yah walaupun saya sendiri tidak yakin bisa mengumpulkan uang yang cukup untuk membelinya saat itu. Yang penting sudah ada niat hahaha...

Setelah mencari dan mencari, saya menemukan MacBook yang paling cocok untuk saya beli, saya lupa serinya, namun "di masa depan" saya merasa yakin bahwa seri yang dulu saya inginkan adalah MacBook Pro 2012 MD101.

Benar saja, "di masa depan" atau tepatnya pada tahun 2018, beberapa bulan setelah lulus dari SMK, saya bekerja di sebuah toko komputer, di situ saya sering bertemu dengan berbagai jenis laptop dan komputer, dari seri terbaru hingga seri paling jadul.

Dan saya juga mulai sering bertemu dengan Mac Series, baik MacBook, Mac Pro, Mac Mini maupun iMac. Pertama kali saya kembali bertemu dengan Mac Series kemungkinan di beberapa minggu awal kerja, saat itu ada sebuah iMac White jadul, yang mau dibeli oleh pelanggan toko tersebut, dan seperti biasa dia minta iMac-nya diinstall dual boot Windows.

Saya pun mendapat tantangan dari senior untuk mengerjakan dual boot pada iMac tersebut, setelah seharian akhirnya saya berhasil melakukannya, dan sejak saat itu senior saya selalu mempercakan kebutuhan seputar Mac untuk dihandle oleh saya, karena di toko tersebut setiap teknsi harus memiliki satu tanggung jawab khusus.

Ada yang khusus segala permasalahan seputar software, ada yang khusus segara permasalahan berat seperti matot dll, ada yang khusus printer, ada yang khusus mac, ada yang khusus rakit, dan ada kepala teknisi yang harus bisa all role.

Dari situ saya mulai kembali tertarik dengan MacBook, yang tak lama sekitar 3 bulan setelah itu saya memang membeli MacBook White jadul, MacBook kondisi minus yang perlu perbaikan dan rencananya sekalian untuk belajar servis. Namun karena sebuah kesalahan, malah jadi rusak dan saya malas untuk memperbaikinya lagi.

Namun hasrat untuk memiliki MacBook masih selalu ada, apa lagi Bos saya sedang sering-seringnya belanja MacBook untuk barang jualan di toko. Sampai akhirnya saya kembali mencari-cari tentang MacBook yang cocok untuk saya beli.

Setelah beberapa lama browsing sana-sini, menonton review sana-sini, akhirnya saya menemukan "calon macbook" yang suatu saat ingin saya beli yaitu MacBook Pro 2012 MD101. Saya berniat menabung untuk membelinya secepat mungkin, karena saat itu saya sudah berpenghasilan dan lebih cepat untuk menabung (pikir saya) dibanding jaman sekolah. 

Saat itu juga saya langsung teringat "Oh ini kan MacBook yang dulu saya inginkan saat masih sekolah", alasan kenapa saya jatuh cinta dengan MacBook Pro 2012 MD101, antara lain :
  • Harganya cukup terjangkau : Entah kenapa harga jual MacBook ini cenderung stabil di sekitar 4 jutaan (sejauh yang saya ingat).
  • Kemudahan Upgrade : Yah.. seri ini menjadi salah satu seri yang mudah diupgrade, dimana penyimpanan utama dapat diupgrade menggunakan SSD Sata, CDROM dapat diubah untuk slot penyimpanan kedua menggunakan HDD Caddy, dan RAM yang bisa diupgrade hingga 16GB.
Namun ternyata nasib berkata lain, kebutuhan ini itu membuat saya melupakan keinginan untuk membeli MacBook, ketambahan di rumah saya juga sudah memiliki beberapa laptop dan PC yang saya gunakan untuk berbagai kebutuhan seharo-hari.

Hingga di tahun 2020 saya sudah tidak bekerja di Toko Komputer tersebut karena Pandemi Covid saat itu, saya pun mulai melupakan keingan saya terkait Mac.

Lalu di tahun 2023, saya mulai tertarik dengan Device Apple lagi untuk menunjang kebutuhan social media saya, karena saat itu saya mulai mencoba membuat content untuk tiktok dan instagram. Lalu di 2024, saya mulai jenuh dengan pekerjaan saya saat itu dan ingin mulai membuka usaha sendiri.

Saya pun kepikiran untuk kembali menekuni dunia servis gadget, saya mulai belajar kembali atau lebih tepatnya "memanaskan" mesin yang sudah jarang saya gunakan, yaitu kemampuan servis gadget, karena sejak berhenti dari toko komputer, saya hanya melakukan servis gadget untuk kebutuhan pribadi saja.

Saya pun memutuskan untuk mendalami seputar Apple Devices, karena untuk Laptop/Komputer umum, maupun Windows, Android dan Linux masih sering saya lakukan di device pribadi saya. Namun untuk Apple Device sudah lama saya tinggalkan.

Saya pun mulai membeli iPhone untuk latihan servis, lalu di pertengahan 2024 ada yang menjulan MacBook Pro 2012 MD101 dengan harga yang cukup terjangkau. Tanpa pikir panjang, saya pun langsung membelinya.

Saya juga melakukan upgrade tidak lama setelah itu, RAM saya Upgrade menjadi 16GB, dual storage dengan SSD 240GB untuk Sistem dan HDD 1TB untuk penyimpanan.

Lalu saya install MacOS Big Sur menggunakan Open Core yang setelah itu saya Upgrade ke Sonoma dan Dual Boot menggunakan Windows 11.

Namun jarang saya gunakan, karena saat itu saya memiliki beberapa Laptop dan PC yang sudah sering saya gunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Hingga akhirnya rilis MacOS Sequoia ternyata MacBook saya juga mendapatkan Notifikasi untuk Update, tanpa pikir panjang akhirnya saya pun mencoba update ke Sequoia.

Apakah Bisa? Bisa!! Apakah Lancar? Untuk kebutuhan saya lancar-lancar saja, hanya untuk kebutuhan Online, Photoshop 2022 dan Edit Video 1080p 30FPS.

Jangan tanya sudah saya gunakan apa saja selain itu, karena jawabannya masih sama, jarang digunakan karena ada beberapa Laptop dan PC yang saya gunakan sehari-hari.

Baru sejak sekitar Januari 2025 saya menggunakan MacBook ini untuk sehari-hari. Saat ini saya install Big Sur sebagai Sistem Operasi utama karena saya tidak belum menemukan urgensi yang membuat saya harus menggunakan OS yang lebih baru.

Walaupun lancar-lancar saja saat menggunakan Sonoma bahkan Sequoia, namun mengingat ini merupakan Device yang sudah cukup tua (umurnya udah 12 tahun lebih guys), saya tidak ingin terlalu menyiksanya haha...

Kecuali nanti software-software yang saya gunakan sudah tidak support di Big Sur baru saya update lagi ke OS X yang lebih baru. Yah itu pun kalau tidak keburu sudah membeli MacBook yang lebih baru (Aamiin....).

Yah... mungkin cukup sekian curhatan saya kali ini, kedepannya saya akan sering membagikan pembahasan seputar MacBook jadul di Blog ini dan beberapa social media saya (semoga tidak malas).

Terimakasih sudah membaca.